Senja yang (tak) pernah datang lagi

 

Senja yang (tak) pernah datang lagi.

Bermain bersama teman satu gang memang mengasyikan, apalagi jika permainan berlanjut sampai terdengar adzan maghrib dari masjid terdekat. Langkah kaki menuju jalan pulang dibarengi dengan ccahaya oranye hangat arah barat, membuat suasana menjadi sendu dan menenangkan. Sisa uang saku sekolah sering aku jajakan makanan disepanjang jalan pulang. Sampai rumah aku disambut oleh kedua orang tuaku dan kakak-kakakku dengan senyuman dan kehangatan. Mandi sehabis bermain di sore hari memang terasa sangat nikmat seperti semuanya baik-baik saja. Makan malam yang sudah disiapkan di meja makan keluarga terasa sangat enak dan harum. Satu lagi tidur malam di kamar impian memang sangat nyaman dan memberikan ketenangan yang tidak pernah didapatkan sebelumnya.

Mungkin. Setidaknya aku masih bisa bermimpi.

Mimpi merupakan hadiah terindah Tuhan untuk manusia hina seperti kita ini. Bayangkan jika kita tidak bisa bermimpi dan hanya bisa mengingat, pasti pikiran kita sudah habis pada usia remaja. Manusia yang tidak merasakan kepahitan dunia tidak akan pernah mengetahui apa pentingnya bermimpi, apalagi mimpi saat tertidur pulas sewaktu jam istirahat saat kerja. Mimpi membuat manusia hina menjadi semangat untuk tetap melanjutkan hidup. Dihantam realita yang pahit, tapi setidaknya kita bisa membuat skenario palsu yang indah dikepala kita.

Cukup. Kita dibunuh oleh harapan fana.

Tuhan, tidakkah Dirimu memberikan setetes saja nikmat air sungai dari surgamu itu untuk kami?. Kami lahir di daratan yang penuh dengan penderitaan yang tiada henti ini karena Dirimu yang mentakdirkan kita seperti ini kan?. Berilah kami kekuatan untuk terlepas dari siksaan dan cobaanmu ini ya Tuhan.

Tidak. Kami tidak ingin hidup.

Menyedihkan ya, berdoa meminta kebaikan kepada yang memberi keburukan. Hidup memang tidak adil bagi manusia seperti kita ini. Apa itu kesetaraan?. Tuhan tidak mengenal itu. Ah, maafkan aku Tuhan, Dirimu mengenal itu tapi mungkin kami yang tidak paham saja. Keadilan menurutMu mungkin setiap kemungkinan terisi oleh kemungkinan yang lain juga. Ada orang miskin dan kaya, ada penghuni surga dan neraka, ada orang miskin masuk surga, ada juga orang miskin masuk neraka, dan semua kemungkinan yang dapat terisi oleh kalkulator ilahi.

Yang benar saja.

Kata-kata yang sering terucap oleh manusia-manusia penghuni Ibukota adalah umpatan, makian, dan sumpah serapah. Entah kepada Tuhan, diri sendiri, maupun manusia lain. Kapan yah mereka melihat senja terakhir mereka?. Mungkin dipikiran mereka senja adalah kondisi terburuk dalam hidup mereka sekarang. Senja berarti waktu sudah dekat dengan malam hari, malam adalah waktu untuk lembur, semakin larut adalah waktu yang bisa dicuri untuk tidur supaya esok pagi jam 8 mereka bisa bekerja lagi. 

Infinity Loop.

 

 

 

 

 

 

Comments