Sehari lagi ya, Janji
Apa
sih hidup itu bagi kita yang ditakdirkan seperti ini oleh Tuhan?
Aku.
Noori. Seorang yang telah mati pada tahun ke-14nya, tapi masih hidup sampai
sekarang.
Kehidupan
bagi orang-orang beruntung memang sangat berwarna dan bahagia. Mereka
dikelilingi oleh keberuntungan yang tiada henti Tuhan berikan. Bagi orang
seperti kita, kebahagiaan adalah mimpi yang bahkan tidak diperbolehkan oleh
takdir yang Tuhan tetapkan. Aku sering bertanya kepada-Nya mengapa semuanya
terlihat tidak adil dan serasa kita selalu menjadi antagonis dalam ruang
bahagia itu sendiri. Menyedihkan ya.
Aku
pernah mengalami keadaan yang penuh putus asa dalam hidupku dan tidak tahu
harus bagaimana. Hari itu. Hujan gerimis dan dentuman petir samar-samar. Aku
menyalakan motorku itu, pergi menuju ke suatu tempat yang familiar untuk
orang seperti kita. Kursi besi Indomaret. Tak lupa dengan sebotol minuman rasa
kopi dan kadang ditemani oleh rokok, aku beli dengan sisa uang di dompet
lusuhku.
Pak
Kodir. Nama seorang driver online yang aku sapa dan ajak bicara. Dalam sela-sela perbincangan aku menangkap antara nasihat atau curhatan dunia yang sedang dia hadapi.
“Jika
rasa sakit itu membuatmu tetap hidup maka pertahankanlah, siapa tahu ketika
kamu sembuh bukan bahagia yang muncul, tapi kehampaan dan berujung pada pengakhiran hidupmu sendiri.”
Itu
kata-kata yang aku ingat dan simpan sampai saat ini. Kata-kata yang aku jadikan
motivasi untuk tetap hidup walaupun jiwaku sudah tidak bersama tubuhku saat
ini.
Tak
apa, jangan bersedih, karena ini isi hati kita para penyintas, bukan hanya
dirimu seorang yang merasakan. Di luar sana ada banyak jiwa yang berjalan
dengan tubuh yang sama-sama lelah, memikul luka yang namanya berbeda tapi
rasanya serupa. Kita mungkin tidak saling kenal, tapi kita paham satu sama lain
tanpa perlu banyak kata.
Hidup
bagi kita bukan tentang bahagia yang meledak-ledak. Kadang hanya tentang
bertahan sampai hari ini selesai. Tentang duduk diam tanpa menangis. Tentang
memilih pulang, bukan menghilang. Dan entah kenapa, itu sudah lebih dari cukup
untuk disebut hidup.
Kalau
hari ini kamu masih di sini, membaca ini, berarti kamu juga sedang melakukan
hal yang sama denganku: melanjutkan, meski tanpa janji apa pun di depan.
Dan mungkin, untuk orang seperti kita, itulah bentuk keberanian yang paling
jujur.
Kalau
kamu sedang melupakan Tuhan karena Dia memberimu takdir seperti ini, tak apa,
tapi jangan lama-lama ya. Yang terpenting kamu jangan sampai kehilangan akal
sehatmu karena akan berakibat kehilangan kesempatanmu untuk tetap hidup untuk selamanya.
Maafkan Tuhan, karena Dia juga telah memberimu kesempatan untuk melihat dunia ini. Karena di sela-sela takdir yang terasa kejam, masih ada pertemuan-pertemuan kecil yang menyelamatkan: orang-orang yang bernasib sama, yang peduli tanpa syarat, yang mendengarkan tanpa menghakimi. Dan di antara mereka, ada satu sosok yang sering luput kita sebut sebagai pahlawan: psikiater. Orang yang duduk mendengarkan saat dunia terasa bising, yang mengiyakan perasaan tanpa mengunci kita di sana, lalu pelan-pelan mengarahkan agar kita tetap hidup. Bukan dengan keajaiban, tapi dengan kewarasan.
Jika hari
ini kamu masih membaca, masih berpikir, masih memilih bertahan, itu bukan
kebetulan. Itu adalah kerja sunyi dari banyak tangan yang tidak terlihat. Dan
mungkin, itu sudah cukup alasan untuk melanjutkan satu hari lagi.
Aku
pernah membaca buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Dan entah kenapa, di
bagian akhirnya aku merasa sedang bercermin. Tokoh utamanya menunda satu hal
kecil bukan karena takut, tapi karena ingin memberi waktu pada hidup.
Aku melakukan hal yang sama. Menahan diri. Bukan untuk menyiksa, melainkan
untuk bertahan.
Menunda
itu bukan kelemahan. Itu pilihan sadar. Cara sunyi untuk berkata pada diri
sendiri: hari ini belum. Karena selama masih ada “nanti”, hidup masih
punya celah. Dan kadang, celah sekecil itu sudah cukup layak untuk kita bermalam satu
malam lagi, di dunia.
Aku
tidak tahu apakah besok akan lebih ringan. Tapi hari ini, aku memilih menahan.
Dan dari semua pilihan yang pernah kuambil, mungkin inilah yang paling masuk
akal.
Tetap bertahan untuk terus hidup teman sekalian. Siapa tahu besok ada kabar baik yang datang. Akan ada hal baru yang membuatmu penasaran. Ada seseorang yang mungkin tiba-tiba datang kepadamu dan memberikan kehidupan serta hati tulusnya untukmu.
Sehari lagi ya, janji.
Comments
Post a Comment