Aku manusia yang meninginkan
kesunyian lebih dari apapun dalam hidupnya, akan tetapi justru Tuhan berikan
keramaian yang memekakan gendang telingaku sampai pecah. Kebisingan manusia lain
memang menjengkelkan, apalagi yang berkaitan dengan singgasana takhta dunia.
Ah sialan, topik itu lagi.
Lagi-lagi keserakahan dan kesombongan Iblis masuk kedalam ambisi manusia-manusia
bodoh dan tidak tahu apa itu kebersamaan dalam bersosial. Bahkan mungkin,
Lucifer kagum dengan apa yang manusia lakukan di dunia ini sekarang, karena
makhluk tanah lebih sombong dari api yang menyala-nyala.
26 tahun lamanya aku menahan takdir
yang berisikan siksaan batin ini sendirian tanpa bantuan manusia yang bahkan aku
sayangi. Aman aja, selagi masih bisa minum kopi tanpa gula sudah membuatku
nyaman dan aman berada di neraka ini. Aneh ya, kadang manusia yang sedang sakit malah lebih
peka terhadap setiap perubahan dan anomali yang terjadi, bahkan sampai titik
paling detail. Kenapa manusia sehat memiliki empati yang minim, mungkin mereka
tidak ingat tentang kematian ataupun kejatuhan didepan mereka karena tertutup oleh silaunya ambisi gelap duniawi.
“Semua manusia yang ingin sukses
harus merasakan kegagalan”
"Kegagalan adalah kunci kesuksesan"
"Saya dulu juga sering gagal, tapi saya bekerja keras"
"Semangat kamu bisa, jadikan kegagalan menjadi sebuah pembelajaran"
Naif. Kalimat yang bisa membuat manusia
semakin jatuh ataupun bangkit berjuang sampai titik penghabisan. Oh iya, kamu
kira manusia yang gagal tidak berjuang juga?, bahkan sampai titik penghabisanpun
mereka masih menggerakan telapak kaki mereka dan menyeret kaki mereka yang lain
hanya untuk menyambung hidup satu hari lagi. Atau mungkin beberapa jam saja.
Sementara ada golongan yang lahirpun dia sudah dicukupkan untuk makan sampai
hari kiamat, mereka masih saja menggonggong kepada manusia miskin dengan
kalimat hardikan dan hinaan yang keji.
“Miskin kok mau punya anak!”
“Miskin mending usaha dulu sampai
mapan, jangan nikah dulu kasian anak manusia”
“Sadar
diri kamu itu miskin, kerja lebih keras lagi sana!”
“Anakku aku berikan Princess
Treatment, kamu datang mengajak dia susah!”
“Mau
dikasih makan apa anakku hah!?”
Begitulah manusia, merasa hanya
dirinya yang berjuang sangat keras di dunia ini. Coba lihat malam hari pukul 1
pagi di perempatan atau di ruko-ruko yang tutup, apa yang kamu lihat, gelandangan?,
pengemis?, manusia buangan?. Beberapa lelaki yang telihat lusuh, dekil, hitam,
dan wajah yang suram. Mereka itu dulunya juga anak kesayangan ibunya yang
setiap ditanya tentang cita-cita selalu menjawab dokter ataupun abdi negara
juga seperti kalian semua. Kalian kira mereka adalah manusia dewasa miskin yang tiba-tiba dihidupkan
Tuhan dengan umur yang sekarang dan dengan takdir kejam seperti sekarang ini?.
Beberapa dari mereka mungkin dulu punya kesempatan untuk mengubah nasib mereka,
tapi apa?. Ya. Lagi-lagi takdir mereka menjadi manusia miskin
semiskin-miskinnya dari golongan miskin yang termiskin.
Kasihan ya, kita yang mungkin dari
kecil disayang dan dibesarkan dengan sepenuh hati dan kelayakan yang cukup
malah Tuhan takdirkan kita merasakan kemalangan dalam hati yang entah darimana
asalnnya atau mungkin kumpulan trauma yang diderita dari banyaknya peristiwa
yang terjadi dalam hidup. Kita yang masih bisa makan setidaknya satu bulan
kedepan malah ingin mengakhiri mimpi kita di dunia ini dalam sekejap mata
karena kita merasa menjadi manusia paling sakit dan malang di dunia.
Kata manusia lain “Kita ini hanya
kurang bersyukur dan beribadah saja. Lebih baik tobat, sholat saja dulu, nanti
pikiran itu akan hilang sendiri kok”. Kata-kata yang terkesan sangat depresi melebihi
orang depresi itu sendiri keluar dari kata orang yang mengaku normal.
Apakah dengan beribadah yang rajin
dan rasa syukur yang banyak membuat hidup kita semakin baik dan menjadi manusia
yang beruntung?. Tidak, atau mungkin iya?. Setiap manusia memiliki pandangan
dan kepekaan yang berbeda. Ada yang cukup dapat kata motivasi sederhana
hidupnya menjadi sangat berwarna, ada juga yang mendengar kata motivasi malah
menjadi ajakan untuk berkelahi karena dia telah lama menderita di dunia ini. Hati-hati dengan perkataan walaupun kalimat itu berisikan kebaikan.
“Bersyukur itu bukan rapalan mantra
sihir untuk hidup lebih baik, tapi sebuah kalimat yang menandakan kita berserah
diri kepada sang pencipta, apapun keadaan kita disini, karena kita diberi hidup
saja katanya adalah keberkahan yang Tuhan berikan untuk kita”,
Tapi jangan coba-coba mengatakan
kalimat itu didepan manusia yang baru saja mendapat kegagalan, manusia yang
baru saja mendapat kegagalan lagi, manusia yang gagal, manusia gagal yang
gagal, dan manusia yang sangat gagal. Kebanyakan ya padahal tinggal katakan manusia
gagal saja cukup. Inilah hidup yang Tuhan anugerahkan kepada jiwa-jiwa malang
yang bahkan dihidup kan oleh Tuhan saja disebut belas kasihan oleh Tuhan.
Kasihan ya, padahal jika mereka ditanya ingin hidup atau tidak sebelum
ditiupkan roh kedalam tubuh, mereka tidak akan menjawab.
“Bahkan jika Tuhan menungguku
selama jutaan tahun, aku tetap tidak akan menjawabnya”
Comments
Post a Comment